Pengertian Dan Istilah-Istilah Bencana Alam DAN Bahaya Rokok

Terjadinya bencana alam gempa bumi secara beruntun di Pariaman, Padang Sumatera Barat dan di Sungaipenuh Jambi menggerakkan hati saya untuk berbagi informasi terkait beberapa pengertian dan istilah yang terkait dengan bencana alam. Dengan cara demikian, kita akan semakin memiliki pengetahuan tentang bencana alam sekaligus bagaimana pemerintah Indonesia mengatur penanggulangan bencana. Secara etimologis, bencana adalah gangguan, goodaan, tipuan atau sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan kesusakan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya. Kata bencana selalu identik dengan sesuatu dan stuasi negatif yang dalam bahasa Inggris sepadan dengan kata disater. Disaster berasal dari Bahasa Yunani, disatro, dis berarti jelek dan astro yang berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi.

Pengertian bencana atau disaster menurt Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan). Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana.

  1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
  2. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
  3. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
  4. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
  5. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
  6. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.
  7. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
  8. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.
  9. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
  10. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
  11. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.
  12. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayahpascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.
  13. Ancaman bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.
  14. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.
  15. Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.
  16. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.
  17. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.
  18. Bantuan darurat bencana adalah upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat.
  19. Status keadaan darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk jangka waktu  tertentu atas dasar rekomendasi Badan yang diberi tugas untuk menanggulangi bencana.
  20. Pengungsi adalah orang atau kelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat dampak buruk bencana.
  21. Korban bencana adalah orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana.

Masih banyak istilah-istilah yang berhubungan dengan bencana alam. Untuk mengetahui lebih detail, saya sarankan anda untuk Download Undang-Undang Penanggulangan Bencana Di Sini dengan file berektensi pdf. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Berbagai Jenis/Macam Bencana Alam Di Lingkungan Sekitar Kita Dan Berbahaya

Tue, 10/11/2009 – 12:15am — godam64

Bencana alam adalah kejadian-kejadian luar biasa yang di luar kendali manusia yang bersifat merusak dan merugikan makhluk hidup yang berada di sekitarnya. Bencana alam bisa merusak harta benda manusia atau bahkan bisa melukai dan merengut nyawa manusia yang terkena bencana alam. Untuk itulah kita harus waspada dan selalu siap sedia atas kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi pada diri kita.

Beberapa Bencana Alam Yang Ada Di Sekitar Kita (disertai pengertian / arti definisi) :

1. Banjir

Banjir adalah bencana akibat curah hujan yang tinggi dengan tidak diimbangi dengan saluran pembuangan air yang memadai sehingga merendam wilayah-wilayah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang yang ada di sana. Banjir bisa juga terjadi karena jebolnya sistem aliran air yang ada sehingga daerah yang rendah terkena dampak kiriman banjir.

2. Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan adalah kebakaran yang diakibatkan oleh faktor alam seperti akibat sambaran petir, kekeringan yang berkepanjangan, leleran lahar, dan lain sebagainya. Kebakaran hutan menyebabkan dampak yang luas akibat asap kebakaran yang menyebar ke banyak daerah di sekitarnya. Hutan yang terbakar juga bisa sampai ke pemukiman warga sehingga bisa membakar habis bangunan-bangunan yang ada.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi adalah goncangan yang mengguncang suatu daerah mulai dari yang tingkat rendah sampai tingkat tinggi yang membahayakan. Gempa dengan skala tinggi dapat membuat luluhlantak apa-apa yang ada di permukaan bumi. Rumah, gedung, menara, jalan, jembatan, taman, landmark, dan lain sebagainya bisa hancur rata dengan tanah jika terkena gempa bumi yang besar.

4. Tsunami

Tsunami adalah ombak yang sangat besar yang menyapu daratan akibat adanya gempa bumi di laut, tumbukan benda besar/cepat di laut, angin ribut, dan lain sebagainya. Sunami sangat berbahaya karena bisa menyapu bersih pemukiman warga dan menyeret segala isinya ke laut lepas yang dalam. Tsunami yang besar bisa membunuh banyak manusia dan makhluk hidup yang terkena dampak tsunami.

5. Gunung Meletus

Gunung meletus adalah gunung yang memuntahkan materi-materi dari dalam bumi seperti debu, awan panas, asap, kerikil, batu-batuan, lahar panas, lahar dingin, magma, dan lain sebagainya. Gunung meletus biasanya bisa diprediksi waktunya sehinggi korban jiwa dan harta benda bisa diminimalisir.

6. Angin Puting Beliung / Angin Ribut

Angin puting beliung adalah angin dengan kecepatan tinggi yang berhembus di suatu daerah yang dapat merusak berbagai benda yang ada di permukaan tanah. Angin yang sangat besar seperti badai, tornado, dan lain-lain bisa menerbangkan benda-benda serta merobohkan bangunan yang ada sehingga sangat berbahaya bagi manusia.

7. Tanah Longsor

Tanah longsor adalah tanah yang turun atau jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Masalahnya jika ada orang atau pemukiman di atas tanah yang longsor atau di bawah tanah yang jatuh maka sangat berbahaya. Tidak hanya tanah saja yang longsor karena batu, pohon, pasir, dan lain sebagainya bisa ikut longsor menghancurkan apa saja yang ada di bawahnya.

Pengertian dan Macam macam Limbah atau Sampah

I. Pengertian Limbah dan Polusi
Pengertian Limbah atau Sampah

Sampah

Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.

Pengertian Polusi

Polusi Udara

Polusi adalah sejenis gas yang dapat membahayakan yang berasal atau dihasilkan oleh asap-asap baik dari asap kendaraan bermotor maupun asap-asap sisa pembakaran dari pabrik-pabrik tertentu. Jarang sekali kita temui keadaan dijalan yang bersih tanpa adanya polusi dari asap kendaraan bermotor. Polusi juga dapat menimbulkan penyakit, karena didalam polusi itu terkandung virus-virus penyakit yang dapat membahayakan kesehatan kita. Banyak warga yang mengeluh akibat adanya polusi, sampai sekarangpun belum ada cara yang ampuh untuk menangani polusi, karena semakin hari semakin banyak orang yang mengendarai kendaraan berotor sehingga makbanyak pula asap-asap yang dihasilkan dan hal itu akan menyebabkan polusi udara.

II. Jenis-jenis limbah
Jika didasarkan asalnya, limbah dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1. Limbah Organik

Limbah Organik

Limbah ini terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah tangga, kegiatan industri. Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses yang alami. Limbah pertanian berupa sisa tumpahan atau penyemprotan yang berlebihan, misalnya dari pestisida dan herbisida, begitu pula dengan pemupukan yang berlebihan. Limbah ini mempunyai sifat kimia yang setabil sehingga zat tersebut akan mengendap kedalam tanah, dasar sungai, danau, serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup didalamnya. Sedangkan limbah rumah tangga dapat berupa padatan seperti kertas, plastik dan lain-lain, dan berupa cairan seperti air cucian, minyak goreng bekasdan lain-lain. Limbah tersebut ada yang mempunyai daya racun yang tinggi misalnya : sisa obat, baterai bekas, dan air aki. Limbah tersebut tergolong (B3) yaitu bahan berbahaya dan beracun, sedangkan limbah air cucian, limbah kamar mandi, dapat mengandung bibit-bibit penyakit atau pencemar biologis seperti bakteri, jamur, virus dan sebagainya.

2. Limbah Anorganik

Limbah Anorganik

Limbah ini terdiri atas limbah industri atau limbah pertambangan. Limbah anorganik berasal dari sumber daya alamyang tidak dapat di uraikan dan tidak dapat diperbaharui. Air limbah industri dapat mengandung berbagai jenis bahan anorganik, zat-zat tersebut adalah :

Garam anorganik seperti magnesium sulfat, magnesium klorida yang berasal dari kegiatan pertambangan dan industri.

Asam anorganik seperti asam sulfat yang berasal dari industri pengolahan biji logam dan bahan bakar fosil.

Adapula limbah anorganik yang berasal dari kegiatan rumah tangga seperti botol plastik, botol kaca, tas plastik, kaleng dan aluminium.

Jika berdasarkan sumbernya limbah dikelompokkan menjadi 3 yaitu:

1. Limbah Pabrik

Limbah

Limbah ini bisa dikategorikan sebagai limbah yang berbahaya karena limbah ini mempunyai kadar gasyang beracun, pada umumnya limbah ini dibuang di sungai-sungai disekitar tempat tinggal masyarakat dan tidak jarang warga masyarakat mempergunakan sungai untuk kegiatan sehari-hari, misalnya MCK(Mandi, Cuci, Kakus) dan secara langsung gas yang dihasilkan oleh limbah pabrik tersebut dikonsumsi dan dipakai oleh masyarakat.

2. Limbah Rumah Tangga

 

Limbah Rumah Tangga

Limbah rumah tangga adalah limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga limbah ini bisa berupa sisa-sisa sayuran seperti wortel, kol, bayam, slada dan lain-lain bisa juga berupa kertas, kardus atau karton. Limbah ini juga memiliki daya racun tinggi jika berasal dari sisa obat dan aki.

3. Limbah Industri

Limbah Industri

Limbah ini dihasilkan atau berasal dari hasil produksi oleh pabrik atau perusahaan tertentu. Limbah ini mengandung zat yang berbahaya diantaranya asam anorganik dan senyawa orgaik, zat-zat tersebut jika masuk ke perairan maka akan menimbulkan pencemaran yang dapat membahayakan makluk hidup pengguna air tersebut misalnya, ikan, bebek dan makluk hidup lainnya termasuk juga manusia

 

III. Cara menangani limbah
Pertama dengan cara didaur ulang
Dijual kepasar loak atau tukang rongsokan yang biasa lewat di depan rumah – rumah. Cara ini bisa menjadikan limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang yang ekonomisdan bisa menghasilkan uang. Dapat juga dijual kepada tetangga kita yang menjadi tukang loak ataupun pemulung. Barang-barang yang dapat dijual antara lain kertas-kertas bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio tua, TV tua dan sepeda yang usang.

Dengan cara pembakaran
Cara ini adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha keras. Cara ini bisa dilakukan dengan cara membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas dengan menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya.

Kelebihan cara membakar ini adalah:
1. Mudah dan tidak membutuhkan usaha keras
2. Membutuhkan tempat atau lokasi yang cukup kecil
3. Dapat digunakan sebagai sumber energi baik untuk pembangkit uap air panas, listrik dan pencairan logam.

IV. Cara Menangani Polusi Akibat Kendaraan Bermotor
Bagi banyak daerah perkotaan, usaha melengkapi kendaraan, seperti angkutan kota, skuter, dan mobil dengan perangkat kendali yang canggih, walaupun efektif tidak mengurangi pencemaran udara dengan cukup cepat dan menyeluruh. Kota-kota ini telah menjalankan berbagai program mulai dari pemberlakuan hari tanpa berkendaraan, sampai pelarangan parkir di kota yang kesemuanya dikenal dengan istilah “upaya pengendalian transportasi”(“transportasi control measures/”TCM”). Banyak TCM dipusatkan pada pengurangan kepadatan lalu lintas, dengan menggunakan sistem yang berkisar dari metode fisik, seperti lampu lalu lintas yang terkoordinasi, jalan satu arah dan bermobil patungan atau jalur bus yang terpisah, sampai metode penggunaan insentif ekonomi, misalnya ”tarif jalur padat” yang mengharuskan pengemudi membayar jika melalui jalan raya di saat lalu lintas padat.

Larangan Masuk. Pada tahun 1977 Buenos Aires melarang kendaraan pribadi memasuki jalan-jalan pusat keramaian kota pada pukul 10 pagi sampai 7 malam pada hari-hari kerja. Bus dan taksi diperbolehkan hanya pada beberapa jalan tertentu. Larangan ini mengatasi kepadatan lalu lintas dan pencemaran udara yang disebabkan oleh satu juta orang.

V. Dampak Limbah
A. Dampak terhadap kesehatan

Dampaknya yaitu dapat menebabkan atau menimbulkan panyakit.
Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
1. Penyakit diare dan tikus, penyakit ini terjadi karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan yang tidak tepat
2. Penyakit kulit misalnya kudis dan kurap

B. Dampak terhadap lingkungan
Cairan dari limbah – limbah yang masuk ke sungai akan mencemarkan airnya sehingga mengandung virus-virus penyakit. Berbagai ikan dapat mati sehingga mungkin lama kelamaan akan punah. Tidak jarang manusia juga mengkonsumsi atau menggunakan air untuk kegiatan sehari-hari, sehingga menusia akan terkena dampak limbah baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain mencemari, air lingkungan juga menimbulkan banjir karena banyak orang-orang yang membuang limbah rumah tanggake sungai, sehingga pintu air mampet dan pada waktu musim hujan air tidak dapat mengalir dan air naik menggenangi rumah-rumah penduduk, sehingga dapat meresahkan para penduduk.

VI. Kesimpulan
Pada dasarnya polusi dan limbah adalah sejenis kotoran yang berasal dari hasil pembuangan dan itu mengakibatkan dampak bagi lingkungan di sekitar tetapi sekarang banyak ditemukan cara atau solusi untuk menangani dampak-dampak yang dihasilkan oleh pousi dan limbah, meskipun demikian pada kenyataannya cara atau solusi tersebut tidak ada hasilnya karena masih banyak asap-asap polusi dan masih banyak pula kita jumpai limbah atau sampah disungaidan didarat yang dapat pula menimbulkan banjir.

Sumber:  http://sobatbaru.blogspot.com/2008/05/pengertian-limbah-dan-polusi.html

DEFINISI LIMBAH B3

Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia.

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:

* Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap
* Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi
* Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengn lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut
* Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik.

Limbah B3 dikarakterisasikan berdasarkan beberapa parameter yaitu total solids residue (TSR), kandungan fixed residue (FR), kandungan volatile solids (VR), kadar air (sludge moisture content), volume padatan, serta karakter atau sifat B3 (toksisitas, sifat korosif, sifat mudah terbakar, sifat mudah meledak, beracun, serta sifat kimia dan kandungan senyawa kimia).

Contoh limbah B3 ialah logam berat seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya. Cd dihasilkan dari lumpur dan limbah industri kimia tertentu sedangkan Hg dihasilkan dari industri klor-alkali, industri cat, kegiatan pertambangan, industri kertas, serta pembakaran bahan bakar fosil. Pb dihasilkan dari peleburan timah hitam dan accu. Logam-logam berat pada umumnya bersifat racun sekalipun dalam konsentrasi rendah. Daftar lengkap limbah B3 dapat dilihat di PP No. 85 Tahun 1999: Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Silakan klik link tersebut untuk daftar lengkap yang juga mencakup peraturan resmi dari Pemerintah Indonesia.

Penanganan atau pengolahan limbah padat atau lumpur B3 pada dasarnya dapat dilaksanakan di dalam unit kegiatan industri (on-site treatment) maupun oleh pihak ketiga (off-site treatment) di pusat pengolahan limbah industri. Apabila pengolahan dilaksanakan secara on-site treatment, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:

* jenis dan karakteristik limbah padat yang harus diketahui secara pasti agar teknologi pengolahan dapat ditentukan dengan tepat; selain itu, antisipasi terhadap jenis limbah di masa mendatang juga perlu dipertimbangkan
* jumlah limbah yang dihasilkan harus cukup memadai sehingga dapat menjustifikasi biaya yang akan dikeluarkan dan perlu dipertimbangkan pula berapa jumlah limbah dalam waktu mendatang (1 hingga 2 tahun ke depan)
* pengolahan on-site memerlukan tenaga tetap (in-house staff) yang menangani proses pengolahan sehingga perlu dipertimbangkan manajemen sumber daya manusianya
* peraturan yang berlaku dan antisipasi peraturan yang akan dikeluarkan Pemerintah di masa mendatang agar teknologi yang dipilih tetap dapat memenuhi standar

Teknologi Pengolahan

Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di antaranya ialah chemical conditioning, solidification/Stabilization, dan incineration.

1. Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning. TUjuan utama dari chemical conditioning ialah:
* menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam lumpur
* mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
* mendestruksi organisme patogen
* memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning yang masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses digestion
* mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan

Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Concentration thickening
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini pada dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada tahapan de-watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan centrifuge, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada tahapan awal ini.
2. Treatment, stabilization, and conditioning
Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan partikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini ialah lagooning, anaerobic digestion, aerobic digestion, heat treatment, polyelectrolite flocculation, chemical conditioning, dan elutriation.
3. De-watering and drying
De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan ini umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah drying bed, filter press, centrifuge, vacuum filter, dan belt press.
4. Disposal
Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis, wet air oxidation, dan composting. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfill, crop land, atau injection well.
2. Solidification/Stabilization
Di samping chemical conditiong, teknologi solidification/stabilization juga dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses pencapuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama. Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:
1. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah dibungkus dalam matriks struktur yang besar
2. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation tetapi bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat mikroskopik
3. Precipitation
4. Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
5. Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan menyerapkannya ke bahan padat
6. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali

Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah metoda in-drum mixing, in-situ mixing, dan plant mixing. Peraturan mengenai solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan Kep-03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.
3. Incineration
Teknologi pembakaran (incineration ) adalah alternatif yang menarik dalam teknologi pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini sebenarnya bukan solusi final dari sistem pengolahan limbah padat karena pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Proses insinerasi menghasilkan energi dalam bentuk panas. Namun, insinerasi memiliki beberapa kelebihan di mana sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat. Selain itu, insinerasi memerlukan lahan yang relatif kecil.

Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan energi (heating value) limbah. Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga menentukan banyaknya energi yang dapat diperoleh dari sistem insinerasi. Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3 ialah rotary kiln, multiple hearth, fluidized bed, open pit, single chamber, multiple chamber, aqueous waste injection, dan starved air unit. Dari semua jenis insinerator tersebut, rotary kiln mempunyai kelebihan karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair, dan gas secara simultan.

Penanganan Limbah B3
Hazardous Material Container
Hazardous Material Container

Limbah B3 harus ditangani dengan perlakuan khusus mengingat bahaya dan resiko yang mungkin ditimbulkan apabila limbah ini menyebar ke lingkungan. Hal tersebut termasuk proses pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutannya. Pengemasan limbah B3 dilakukan sesuai dengan karakteristik limbah yang bersangkutan. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa kemasan limbah B3 harus memiliki kondisi yang baik, bebas dari karat dan kebocoran, serta harus dibuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan limbah yang disimpan di dalamnya. Untuk limbah yang mudah meledak, kemasan harus dibuat rangkap di mana kemasan bagian dalam harus dapat menahan agar zat tidak bergerak dan mampu menahan kenaikan tekanan dari dalam atau dari luar kemasan. Limbah yang bersifat self-reactive dan peroksida organik juga memiliki persyaratan khusus dalam pengemasannya. Pembantalan kemasan limbah jenis tersebut harus dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak mengalami penguraian (dekomposisi) saat berhubungan dengan limbah. Jumlah yang dikemas pun terbatas sebesar maksimum 50 kg per kemasan sedangkan limbah yang memiliki aktivitas rendah biasanya dapat dikemas hingga 400 kg per kemasan.

Limbah B3 yang diproduksi dari sebuah unit produksi dalam sebuah pabrik harus disimpan dengan perlakuan khusus sebelum akhirnya diolah di unit pengolahan limbah. Penyimpanan harus dilakukan dengan sistem blok dan tiap blok terdiri atas 2×2 kemasan. Limbah-limbah harus diletakkan dan harus dihindari adanya kontak antara limbah yang tidak kompatibel. Bangunan penyimpan limbah harus dibuat dengan lantai kedap air, tidak bergelombang, dan melandai ke arah bak penampung dengan kemiringan maksimal 1%. Bangunan juga harus memiliki ventilasi yang baik, terlindung dari masuknya air hujan, dibuat tanpa plafon, dan dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Limbah yang bersifat reaktif atau korosif memerlukan bangunan penyimpan yang memiliki konstruksi dinding yang mudah dilepas untuk memudahkan keadaan darurat dan dibuat dari bahan konstruksi yang tahan api dan korosi.

Mengenai pengangkutan limbah B3, Pemerintah Indonesia belum memiliki peraturan pengangkutan limbah B3 hingga tahun 2002. Namun, kita dapat merujuk peraturan pengangkutan yang diterapkan di Amerika Serikat. Peraturan tersebut terkait dengan hal pemberian label, analisa karakter limbah, pengemasan khusus, dan sebagainya. Persyaratan yang harus dipenuhi kemasan di antaranya ialah apabila terjadi kecelakaan dalam kondisi pengangkutan yang normal, tidak terjadi kebocoran limbah ke lingkungan dalam jumlah yang berarti. Selain itu, kemasan harus memiliki kualitas yang cukup agar efektivitas kemasan tidak berkurang selama pengangkutan. Limbah gas yang mudah terbagak harus dilengkapi dengan head shields pada kemasannya sebagai pelindung dan tambahan pelindung panas untuk mencegah kenaikan suhu yang cepat. Di Amerika juga diperlakukan rute pengangkutan khusus selain juga adanya kewajiban kelengkapan Material Safety Data Sheets (MSDS) yang ada di setiap truk dan di dinas pemadam kebarakan.

Secured Landfill
Secured Landfill. Faktor hidrogeologi, geologi lingkungan, topografi, dan faktor-faktor lainnya harus diperhatikan agar secured landfill tidak merusak lingkungan. Pemantauan pasca-operasi harus terus dilakukan untuk menjamin bahwa badan air tidak terkontaminasi oleh limbah B3.

Pembuangan Limbah B3 (Disposal)

Sebagian dari limbah B3 yang telah diolah atau tidak dapat diolah dengan teknologi yang tersedia harus berakhir pada pembuangan (disposal). Tempat pembuangan akhir yang banyak digunakan untuk limbah B3 ialah landfill (lahan urug) dan disposal well (sumur pembuangan). Di Indonesia, peraturan secara rinci mengenai pembangunan lahan urug telah diatur oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) melalui Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

Landfill untuk penimbunan limbah B3 diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu: (1) secured landfill double liner, (2) secured landfill single liner, dan (3) landfill clay liner dan masing-masing memiliki ketentuan khusus sesuai dengan limbah B3 yang ditimbun.

Dimulai dari bawah, bagian dasar secured landfill terdiri atas tanah setempat, lapisan dasar, sistem deteksi kebocoran, lapisan tanah penghalang, sistem pengumpulan dan pemindahan lindi (leachate), dan lapisan pelindung. Untuk kasus tertentu, di atas dan/atau di bawah sistem pengumpulan dan pemindahan lindi harus dilapisi geomembran. Sedangkan bagian penutup terdiri dari tanah penutup, tanah tudung penghalang, tudung geomembran, pelapis tudung drainase, dan pelapis tanah untuk tumbuhan dan vegetasi penutup. Secured landfill harus dilapisi sistem pemantauan kualitas air tanah dan air pemukiman di sekitar lokasi agar mengetahui apakah secured landfill bocor atau tidak. Selain itu, lokasi secured landfill tidak boleh dimanfaatkan agar tidak beresiko bagi manusia dan habitat di sekitarnya.
Deep Injection Well
Deep Injection Well. Pembuangan limbah B3 melalui metode ini masih mejadi kontroversi dan masih diperlukan pengkajian yang komprehensif terhadap efek yang mungkin ditimbulkan. Data menunjukkan bahwa pembuatan sumur injeksi di Amerika Serikat paling banyak dilakukan pada tahun 1965-1974 dan hampir tidak ada sumur baru yang dibangun setelah tahun 1980.

Sumur injeksi atau sumur dalam (deep well injection) digunakan di Amerika Serikat sebagai salah satu tempat pembuangan limbah B3 cair (liquid hazardous wastes). Pembuangan limbah ke sumur dalam merupakan suatu usaha membuang limbah B3 ke dalam formasi geologi yang berada jauh di bawah permukaan bumi yang memiliki kemampuan mengikat limbah, sama halnya formasi tersebut memiliki kemampuan menyimpan cadangan minyak dan gas bumi. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pemilihan tempat ialah strktur dan kestabilan geologi serta hidrogeologi wilayah setempat.

Limbah B3 diinjeksikan se dalam suatu formasi berpori yang berada jauh di bawah lapisan yang mengandung air tanah. Di antara lapisan tersebut harus terdapat lapisan impermeable seperti shale atau tanah liat yang cukup tebal sehingga cairan limbah tidak dapat bermigrasi. Kedalaman sumur ini sekitar 0,5 hingga 2 mil dari permukaan tanah.

Tidak semua jenis limbah B3 dapat dibuang dalam sumur injeksi karena beberapa jenis limbah dapat mengakibatkan gangguan dan kerusakan pada sumur dan formasi penerima limbah. Hal tersebut dapat dihindari dengan tidak memasukkan limbah yang dapat mengalami presipitasi, memiliki partikel padatan, dapat membentuk emulsi, bersifat asam kuat atau basa kuat, bersifat aktif secara kimia, dan memiliki densitas dan viskositas yang lebih rendah daripada cairan alami dalam formasi geologi.

Hingga saat ini di Indonesia belum ada ketentuan mengenai pembuangan limbah B3 ke sumur dalam (deep injection well). Ketentuan yang ada mengenai hal ini ditetapkan oleh Amerika Serikat dan dalam ketentuan itu disebutkah bahwa:

1. Dalam kurun waktu 10.000 tahun, limbah B3 tidak boleh bermigrasi secara vertikal keluar dari zona injeksi atau secara lateral ke titik temu dengan sumber air tanah.
2. Sebelum limbah yang diinjeksikan bermigrasi dalam arah seperti disebutkan di atas, limbah telah mengalami perubahan higga tidak lagi bersifat berbahaya dan beracun.

Referensi: Pengelolaan Limbah Industri – Prof. Tjandra Setiadi, Wikipedia, US EPA

Limbah beracun

Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3).

Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk limbah B3.

Macam Limbah Beracun

  • Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan.
  • Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu lama.
  • Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
  • Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut.
  • Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang terkena infeksi.
  • Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.
  • >KANDUNGAN ZAT BERBAHAYA DALAM ROKOK

Pembicaraan serius di dunia dewasa ini, selain karena faktor kesehatannya yang sangat menggangu baik bagi perokok aktif maupun pasif. rokok seakan-akan telah menjadi hak asasi sehingga beberapa undang-undang pelarangan merokok di depan umum, kenaikan pajak bea cukai rokok hanya menjadi “panas-panas” tahi ayam di negeri ini”. banyak orang yang protes dengan lahirnya undang-undang yang berhubungan dengan rokok dikarenakan ketakutan para maniak rokok akan sulit mendapatkan ‘ganja’ ini di pasaran, namun semua ini di bungkus dengan isu akan banyak pabrik rokok yang tutup sehingga akan menyebabkan hampir berjuta-juta pekerja di indonesia menjadi pengangguran.

Pemerintah menjadi dilema karena ketakutannya akan meningkatnya jumlah pengangguran dilain pihak indonesia harus berhasil mewujudkan indonesia sehat 2010 dan indonesia bebas tembakau 2022 .

Selama ini para perokok pasif dan aktif hanya mengetahui bahwa bahaya rokok di timbulkan oleh zat yang bernama nikotin, tar, karbon dioksida dan monoksida, namun tahukah anda selama ini para pialang pabrik besar di seluruh dunia telah menyembunyikan rahasia besar bahwa rokok mengandung 599 zat aditif yang sangat berbahaya.

Berikut ke 599 zat additive tersebut yang saya sangat persilahkan anda membacanya dan silahkan anda mengambil keputusan apakah anda akan mengorbankan kesehatan anda, keluarga anda dan orang di sekitar anda demi kesenangan anda yang tidak menguntungkan itu :

* Acetanisole
* Acetic Acid
* Acetoin
* Acetophenone
* 6-Acetoxydihydrotheaspirane
* 2-Acetyl-3- Ethylpyrazine
* 2-Acetyl-5-Methylfuran
* Acetylpyrazine
* 2-Acetylpyridine
* 3-Acetylpyridine
* 2-Acetylthiazole
* Aconitic Acid
* dl-Alanine
* Alfalfa Extract
* Allspice Extract,Oleoresin, and Oil
* Allyl Hexanoate
* Allyl Ionone
* Almond Bitter Oil
* Ambergris Tincture
* Ammonia
* Ammonium Bicarbonate
* Ammonium Hydroxide
* Ammonium Phosphate Dibasic
* Ammonium Sulfide
* Amyl Alcohol
* Amyl Butyrate
* Amyl Formate
* Amyl Octanoate
* alpha-Amylcinnamaldehyde
* Amyris Oil
* trans-Anethole
* Angelica Root Extract, Oil and Seed Oil
* Anise
* Anise Star, Extract and Oils
* Anisyl Acetate
* Anisyl Alcohol
* Anisyl Formate
* Anisyl Phenylacetate
* Apple Juice Concentrate, Extract, and Skins
* Apricot Extract and Juice Concentrate
* 1-Arginine
* Asafetida Fluid Extract And Oil
* Ascorbic Acid
* 1-Asparagine Monohydrate
* 1-Aspartic Acid
* Balsam Peru and Oil
* Basil Oil
* Bay Leaf, Oil and Sweet Oil
* Beeswax White
* Beet Juice Concentrate
* Benzaldehyde
* Benzaldehyde Glyceryl Acetal
* Benzoic Acid, Benzoin
* Benzoin Resin
* Benzophenone
* Benzyl Alcohol
* Benzyl Benzoate
* Benzyl Butyrate
* Benzyl Cinnamate
* Benzyl Propionate
* Benzyl Salicylate
* Bergamot Oil
* Bisabolene
* Black Currant Buds Absolute
* Borneol
* Bornyl Acetate
* Buchu Leaf Oil
* 1,3-Butanediol
* 2,3-Butanedione
* 1-Butanol
* 2-Butanone
* 4(2-Butenylidene)-3,5,5-Trimethyl-2-Cyclohexen-1-One
* Butter, Butter Esters, and Butter Oil
* Butyl Acetate
* Butyl Butyrate
* Butyl Butyryl Lactate
* Butyl Isovalerate
* Butyl Phenylacetate
* Butyl Undecylenate
* 3-Butylidenephthalide
* Butyric Acid]
* Cadinene
* Caffeine
* Calcium Carbonate
* Camphene
* Cananga Oil
* Capsicum Oleoresin
* Caramel Color
* Caraway Oil
* Carbon Dioxide
* Cardamom Oleoresin, Extract, Seed Oil, and Powder
* Carob Bean and Extract
* beta-Carotene
* Carrot Oil
* Carvacrol
* 4-Carvomenthenol
* 1-Carvone
* beta-Caryophyllene
* beta-Caryophyllene Oxide
* Cascarilla Oil and Bark Extract
* Cassia Bark Oil
* Cassie Absolute and Oil
* Castoreum Extract, Tincture and Absolute
* Cedar Leaf Oil
* Cedarwood Oil Terpenes and Virginiana
* Cedrol
* Celery Seed Extract, Solid, Oil, And Oleoresin
* Cellulose Fiber
* Chamomile Flower Oil And Extract
* Chicory Extract
* Chocolate
* Cinnamaldehyde
* Cinnamic Acid
* Cinnamon Leaf Oil, Bark Oil, and Extract
* Cinnamyl Acetate
* Cinnamyl Alcohol
* Cinnamyl Cinnamate
* Cinnamyl Isovalerate
* Cinnamyl Propionate
* Citral
* Citric Acid
* Citronella Oil
* dl-Citronellol
* Citronellyl Butyrate
* itronellyl Isobutyrate
* Civet Absolute
* Clary Oil
* Clover Tops, Red Solid Extract
* Cocoa
* Cocoa Shells, Extract, Distillate And Powder
* Coconut Oil
* Coffee
* Cognac White and Green Oil
* Copaiba Oil
* Coriander Extract and Oil
* Corn Oil
* Corn Silk
* Costus Root Oil
* Cubeb Oil
* Cuminaldehyde
* para-Cymene
* 1-Cysteine
* Dandelion Root Solid Extract
* Davana Oil
* 2-trans, 4-trans-Decadienal
* delta-Decalactone
* gamma-Decalactone
* Decanal
* Decanoic Acid
* 1-Decanol
* 2-Decenal
* Dehydromenthofurolactone
* Diethyl Malonate
* Diethyl Sebacate
* 2,3-Diethylpyrazine
* Dihydro Anethole
* 5,7-Dihydro-2-Methylthieno(3,4-D) Pyrimidine
* Dill Seed Oil and Extract
* meta-Dimethoxybenzene
* para-Dimethoxybenzene
* 2,6-Dimethoxyphenol
* Dimethyl Succinate
* 3,4-Dimethyl-1,2 Cyclopentanedione
* 3,5- Dimethyl-1,2-Cyclopentanedione
* 3,7-Dimethyl-1,3,6-Octatriene
* 4,5-Dimethyl-3-Hydroxy-2,5-Dihydrofuran-2-One
* 6,10-Dimethyl-5,9-Undecadien-2-One
* 3,7-Dimethyl-6-Octenoic Acid
* 2,4 Dimethylacetophenone
* alpha,para-Dimethylbenzyl Alcohol
* alpha,alpha-Dimethylphenethyl Acetate
* alpha,alpha Dimethylphenethyl Butyrate
* 2,3-Dimethylpyrazine
* 2,5-Dimethylpyrazine
* 2,6-Dimethylpyrazine
* Dimethyltetrahydrobenzofuranone
* delta-Dodecalactone
* gamma-Dodecalactone
* para-Ethoxybenzaldehyde
* Ethyl 10-Undecenoate
* Ethyl 2-Methylbutyrate
* Ethyl Acetate
* Ethyl Acetoacetate
* Ethyl Alcohol
* Ethyl Benzoate
* Ethyl Butyrate
* Ethyl Cinnamate
* Ethyl Decanoate
* Ethyl Fenchol
* Ethyl Furoate
* Ethyl Heptanoate
* Ethyl Hexanoate
* Ethyl Isovalerate
* Ethyl Lactate
* Ethyl Laurate
* Ethyl Levulinate
* Ethyl Maltol
* Ethyl Methyl Phenylglycidate
* Ethyl Myristate
* Ethyl Nonanoate
* Ethyl Octadecanoate
* Ethyl Octanoate
* Ethyl Oleate
* Ethyl Palmitate
* Ethyl Phenylacetate
* Ethyl Propionate
* Ethyl Salicylate
* Ethyl trans-2-Butenoate
* Ethyl Valerate
* Ethyl Vanillin
* 2-Ethyl (or Methyl)-(3,5 and 6)-Methoxypyrazine
* 2-Ethyl-1-Hexanol, 3-Ethyl -2 -Hydroxy-2-Cyclopenten-1-One
* 2-Ethyl-3, (5 or 6)-Dimethylpyrazine
* 5-Ethyl-3-Hydroxy-4-Methyl-2(5H)-Furanone
* 2-Ethyl-3-Methylpyrazine
* 4-Ethylbenzaldehyde
* 4-Ethylguaiacol
* para-Ethylphenol
* 3-Ethylpyridine
* Eucalyptol
* Farnesol
* D-Fenchone
* Fennel Sweet Oil
* Fenugreek, Extract, Resin, and Absolute
* Fig Juice Concentrate
* Food Starch Modified
* Furfuryl Mercaptan
* 4-(2-Furyl)-3-Buten-2-One
* Galbanum Oil
* Genet Absolute
* Gentian Root Extract
* Geraniol
* Geranium Rose Oil
* Geranyl Acetate
* Geranyl Butyrate
* Geranyl Formate
* Geranyl Isovalerate
* Geranyl Phenylacetate
* Ginger Oil and Oleoresin
* 1-Glutamic Acid
* 1-Glutamine
* Glycerol
* Glycyrrhizin Ammoniated
* Grape Juice Concentrate
* Guaiac Wood Oil
* Guaiacol
* Guar Gum
* 2,4-Heptadienal
* gamma-Heptalactone
* Heptanoic Acid
* 2-Heptanone
* 3-Hepten-2-One
* 2-Hepten-4-One
* 4-Heptenal
* trans -2-Heptenal
* Heptyl Acetate
* omega-6-Hexadecenlactone
* gamma-Hexalactone
* Hexanal
* Hexanoic Acid
* 2-Hexen-1-Ol
* 3-Hexen-1-Ol
* cis-3-Hexen-1-Yl Acetate
* 2-Hexenal
* 3-Hexenoic Acid
* trans-2-Hexenoic Acid
* cis-3-Hexenyl Formate
* Hexyl 2-Methylbutyrate
* Hexyl Acetate
* Hexyl Alcohol
* Hexyl Phenylacetate
* 1-Histidine
* Honey
* Hops Oil
* Hydrolyzed Milk Solids
* Hydrolyzed Plant Proteins
* 5-Hydroxy-2,4-Decadienoic Acid delta- Lactone
* 4-Hydroxy-2,5-Dimethyl-3(2H)-Furanone
* 2-Hydroxy-3,5,5-Trimethyl-2-Cyclohexen-1-One
* 4-Hydroxy -3-Pentenoic Acid Lactone
* 2-Hydroxy-4-Methylbenzaldehyde
* 4-Hydroxybutanoic Acid Lactone
* Hydroxycitronellal
* 6-Hydroxydihydrotheaspirane
* 4-(para-Hydroxyphenyl)-2-Butanone
* Hyssop Oil
* Immortelle Absolute and Extract
* alpha-Ionone
* beta-Ionone
* alpha-Irone
* Isoamyl Acetate
* Isoamyl Benzoate
* Isoamyl Butyrate
* Isoamyl Cinnamate
* Isoamyl Formate, Isoamyl Hexanoate
* Isoamyl Isovalerate
* Isoamyl Octanoate
* Isoamyl Phenylacetate
* Isobornyl Acetate
* Isobutyl Acetate
* Isobutyl Alcohol
* Isobutyl Cinnamate
* Isobutyl Phenylacetate
* Isobutyl Salicylate
* 2-Isobutyl-3-Methoxypyrazine
* alpha-Isobutylphenethyl Alcohol
* Isobutyraldehyde
* Isobutyric Acid
* d,l-Isoleucine
* alpha-Isomethylionone
* 2-Isopropylphenol
* Isovaleric Acid
* Jasmine Absolute, Concrete and Oil
* Kola Nut Extract
* Labdanum Absolute and Oleoresin
* Lactic Acid
* Lauric Acid
* Lauric Aldehyde
* Lavandin Oil
* Lavender Oil
* Lemon Oil and Extract
* Lemongrass Oil
* 1-Leucine
* Levulinic Acid
* Licorice Root, Fluid, Extract and Powder
* Lime Oil
* Linalool
* Linalool Oxide
* Linalyl Acetate
* Linden Flowers
* Lovage Oil And Extract
* 1-Lysine]
* Mace Powder, Extract and Oil
* Magnesium Carbonate
* Malic Acid
* Malt and Malt Extract
* Maltodextrin
* Maltol
* Maltyl Isobutyrate
* Mandarin Oil
* Maple Syrup and Concentrate
* Mate Leaf, Absolute and Oil
* para-Mentha-8-Thiol-3-One
* Menthol
* Menthone
* Menthyl Acetate
* dl-Methionine
* Methoprene
* 2-Methoxy-4-Methylphenol
* 2-Methoxy-4-Vinylphenol
* para-Methoxybenzaldehyde
* 1-(para-Methoxyphenyl)-1-Penten-3-One
* 4-(para-Methoxyphenyl)-2-Butanone
* 1-(para-Methoxyphenyl)-2-Propanone
* Methoxypyrazine
* Methyl 2-Furoate
* Methyl 2-Octynoate
* Methyl 2-Pyrrolyl Ketone
* Methyl Anisate
* Methyl Anthranilate
* Methyl Benzoate
* Methyl Cinnamate
* Methyl Dihydrojasmonate
* Methyl Ester of Rosin, Partially Hydrogenated
* Methyl Isovalerate
* Methyl Linoleate (48%)
* Methyl Linolenate (52%) Mixture
* Methyl Naphthyl Ketone
* Methyl Nicotinate
* Methyl Phenylacetate
* Methyl Salicylate
* Methyl Sulfide
* 3-Methyl-1-Cyclopentadecanone
* 4-Methyl-1-Phenyl-2-Pentanone
* 5-Methyl-2-Phenyl-2-Hexenal
* 5-Methyl-2-Thiophenecarboxaldehyde
* 6-Methyl-3,-5-Heptadien-2-One
* 2-Methyl-3-(para-Isopropylphenyl) Propionaldehyde
* 5-Methyl-3-Hexen-2-One
* 1-Methyl-3Methoxy-4-Isopropylbenzene
* 4-Methyl-3-Pentene-2-One
* 2-Methyl-4-Phenylbutyraldehyde
* 6-Methyl-5-Hepten-2-One
* 4-Methyl-5-Thiazoleethanol
* 4-Methyl-5-Vinylthiazole
* Methyl-alpha-Ionone
* Methyl-trans-2-Butenoic Acid
* 4-Methylacetophenone
* para-Methylanisole
* alpha-Methylbenzyl Acetate
* alpha-Methylbenzyl Alcohol
* 2-Methylbutyraldehyde
* 3-Methylbutyraldehyde
* 2-Methylbutyric Acid
* alpha-Methylcinnamaldehyde
* Methylcyclopentenolone
* 2-Methylheptanoic Acid
* 2-Methylhexanoic Acid
* 3-Methylpentanoic Acid
* 4-Methylpentanoic Acid
* 2-Methylpyrazine
* 5-Methylquinoxaline
* 2-Methyltetrahydrofuran-3-One
* (Methylthio)Methylpyrazine (Mixture Of Isomers)
* 3-Methylthiopropionaldehyde
* Methyl 3-Methylthiopropionate
* 2-Methylvaleric Acid
* Mimosa Absolute and Extract
* Molasses Extract and Tincture
* Mountain Maple Solid Extract
* Mullein Flowers
* Myristaldehyde
* Myristic Acid
* Myrrh Oil
* beta-Napthyl Ethyl Ether
* Nerol
* Neroli Bigarde Oil
* Nerolidol
* Nona-2-trans,6-cis-Dienal
* 2,6-Nonadien-1-Ol
* gamma-Nonalactone
* Nonanal
* Nonanoic Acid
* Nonanone
* trans-2-Nonen-1-Ol
* 2-Nonenal
* Nonyl Acetate
* Nutmeg Powder and Oil
* Oak Chips Extract and Oil
* Oak Moss Absolute
* 9,12-Octadecadienoic Acid (48%) And 9,12,15-Octadecatrienoic Acid (52%)
* delta-Octalactone
* gamma-Octalactone
* Octanal
* Octanoic Acid
* 1-Octanol
* 2-Octanone
* 3-Octen-2-One
* 1-Octen-3-Ol
* 1-Octen-3-Yl Acetate
* 2-Octenal
* Octyl Isobutyrate
* Oleic Acid
* Olibanum Oil
* Opoponax Oil And Gum
* Orange Blossoms Water, Absolute, and Leaf Absolute
* Orange Oil and Extract
* Origanum Oil
* Orris Concrete Oil and Root Extract
* Palmarosa Oil
* Palmitic Acid
* Parsley Seed Oil
* Patchouli Oil
* omega-Pentadecalactone
* 2,3-Pentanedione
* 2-Pentanone
* 4-Pentenoic Acid
* 2-Pentylpyridine
* Pepper Oil, Black And White
* Peppermint Oil
* Peruvian (Bois De Rose) Oil
* Petitgrain Absolute, Mandarin Oil and Terpeneless Oil
* alpha-Phellandrene
* 2-Phenenthyl Acetate
* Phenenthyl Alcohol
* Phenethyl Butyrate
* Phenethyl Cinnamate
* Phenethyl Isobutyrate
* Phenethyl Isovalerate
* Phenethyl Phenylacetate
* Phenethyl Salicylate
* 1-Phenyl-1-Propanol
* 3-Phenyl-1-Propanol
* 2-Phenyl-2-Butenal
* 4-Phenyl-3-Buten-2-Ol
* 4-Phenyl-3-Buten-2-One
* Phenylacetaldehyde
* Phenylacetic Acid
* 1-Phenylalanine
* 3-Phenylpropionaldehyde
* 3-Phenylpropionic Acid
* 3-Phenylpropyl Acetate
* 3-Phenylpropyl Cinnamate
* 2-(3-Phenylpropyl)Tetrahydrofuran
* Phosphoric Acid
* Pimenta Leaf Oil
* Pine Needle Oil, Pine Oil, Scotch
* Pineapple Juice Concentrate
* alpha-Pinene, beta-Pinene
* D-Piperitone
* Piperonal
* Pipsissewa Leaf Extract
* Plum Juice
* Potassium Sorbate
* 1-Proline
* Propenylguaethol
* Propionic Acid
* Propyl Acetate
* Propyl para-Hydroxybenzoate
* Propylene Glycol
* 3-Propylidenephthalide
* Prune Juice and Concentrate
* Pyridine
* Pyroligneous Acid And Extract
* Pyrrole
* Pyruvic Acid
* Raisin Juice Concentrate
* Rhodinol
* Rose Absolute and Oil
* Rosemary Oil
* Rum
* Rum Ether
* Rye Extract
* Sage, Sage Oil, and Sage Oleoresin
* Salicylaldehyde
* Sandalwood Oil, Yellow
* Sclareolide
* Skatole
* Smoke Flavor
* Snakeroot Oil
* Sodium Acetate
* Sodium Benzoate
* Sodium Bicarbonate
* Sodium Carbonate
* Sodium Chloride
* Sodium Citrate
* Sodium Hydroxide
* Solanone
* Spearmint Oil
* Styrax Extract, Gum and Oil
* Sucrose Octaacetate
* Sugar Alcohols
* Sugars
* Tagetes Oil
* Tannic Acid
* Tartaric Acid
* Tea Leaf and Absolute
* alpha-Terpineol
* Terpinolene
* Terpinyl Acetate
* 5,6,7,8-Tetrahydroquinoxaline
* 1,5,5,9-Tetramethyl-13-Oxatricyclo(8.3.0.0(4,9))Tridecane
* 2,3,4,5, and 3,4,5,6-Tetramethylethyl-Cyclohexanone
* 2,3,5,6-Tetramethylpyrazine
* Thiamine Hydrochloride
* Thiazole
* 1-Threonine
* Thyme Oil, White and Red
* Thymol
* Tobacco Extracts
* Tochopherols (mixed)
* Tolu Balsam Gum and Extract
* Tolualdehydes
* para-Tolyl 3-Methylbutyrate
* para-Tolyl Acetaldehyde
* para-Tolyl Acetate
* para-Tolyl Isobutyrate
* para-Tolyl Phenylacetate
* Triacetin
* 2-Tridecanone
* 2-Tridecenal
* Triethyl Citrate
* 3,5,5-Trimethyl -1-Hexanol
* para,alpha,alpha-Trimethylbenzyl Alcohol
* 4-(2,6,6-Trimethylcyclohex-1-Enyl)But-2-En-4-One
* 2,6,6-Trimethylcyclohex-2-Ene-1,4-Dione
* 2,6,6-Trimethylcyclohexa-1,3-Dienyl Methan
* 4-(2,6,6-Trimethylcyclohexa-1,3-Dienyl)But-2-En-4-One
* 2,2,6-Trimethylcyclohexanone
* 2,3,5-Trimethylpyrazine
* 1-Tyrosine
* delta-Undercalactone
* gamma-Undecalactone
* Undecanal
* 2-Undecanone, 1
* 0-Undecenal
* Urea
* Valencene
* Valeraldehyde
* Valerian Root Extract, Oil and Powder
* Valeric Acid
* gamma-Valerolactone
* Valine
* Vanilla Extract And Oleoresin
* Vanillin
* Veratraldehyde
* Vetiver Oil
* Vinegar
* Violet Leaf Absolute
* Walnut Hull Extract
* Water
* Wheat Extract And Flour
* Wild Cherry Bark Extract
* Wine and Wine Sherry
* Xanthan Gum
* 3,4-Xylenol
* Yeast

Setelah mengetahui 599 Kandungan Zat Berbahaya dalam Rokok ada baiknya bagi perokok untuk segera mempertimbangkan untuk berhenti merokok . Tentunya anda dapat mempertimbangkan betapa ruginya anda mengonsumsi 599 Zat Berbahaya dalam setiap hisapan rokok kita.

Mari kita cegah penyakit dari Rokok dengan tidak mengonsumsi Rokok tersebut , karena sangat merugikan anda :)

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s